And… The day has come.
24 Dec. Aku sampai dirumah, menghabiskan makan malam-ku. Berdebar-debar. Selain itu, aku tidak tahu harus bagaimana menuliskan perasaan ku saat ini.
Aku, 24 tahun. Sepertinya sudah sampai pada pilihanku untuk memulai a new chapter of life.
Dia masih berada digereja untuk menyelesaikan drama natal untuk Christmas Eve malam ini. Dan aku, setelah membiarkan kuku-ku diwarnai dan digambar dengan cantik…
Menyusun sepatu putih-ku…puas.
Aku, membaringkan diriku di tempat tidur dan membiarkan diriku tertidur. Sudah jam 10 malam. Dan jam 4 pagi besok, aku sudah harus bangun.
Aku meletakkan ponselku disamping tempat tidur. Aku tahu dia akan mengirimku pesan singkat. Dan aku… pasti akan tertidur.
Aku tertidur dengan mendengar suara my mum dan auntie-s yang berbicara tentang esok hari.
Aku berdoa. Dan tertidur tanpa mimpi malam itu.
Silent night. A holy night. Aku kembali melewati silent night di rumah. Sudah ke 3 kalinya, aku melewatkan silent night bukan digereja.
Semua keletihan sudah sampai kepada puncaknya. Aku hanya perlu santai dan berbahagia pada hari yang sudah ditunggu-tunggu bukan hanya diriku, tapi semua yang ada disekelilingku.
The day has come.
25 Dec. Terbangun sendirian, jam 4 pagi. Belum ada yang terbangun, masih terlalu pagi. Mungkin kesibukan mulai terdengar 2-3 jam lagi.
Hari ini, sebuah permulaan dari babak hidupku yang akan datang, aku berbisik pada diriku sendiri.
Aku menyiapkan sarapan untukku sendiri dan mandi dengan air hagat. Aku berusaha se-rileks mungkin. Aku berbisik pada hatiku, berbicara pada hatiku. Seperti saat menuliskan isi hatiku ini padamu, aku berbisik dan bercerita padamu…isi hatiku.
Ko Gunawan, akan menjemputku pagi ini. Aku menebak dia akan tersesat. Dan beberapa menit kemudian, tebakkanku benar. Aku memakai kemeja biru dan celana pendek seperti biasa. Ko Gunawan mengantarkanku ke Yamano Bridal.
Pagi itu gelap. Lebih gelap dari biasanya. Apakah dia sedang tertidur? Apakah dia cukup tidur? Apakah dia sudah bangun? Pertanyaan pertanyaan itu muncul dalam benakku.
I don’t know but I believe
That something I meant to be
Lesly. Dia yang menangangi keseluruhan perlengkapan wedding-ku dan aku menyukainya.
Aku berbaring di tempat tidur untuk make up, dalam ruangan khusus untuk make up bride.
Dengan susah payah aku memaksa diriku untuk tidak tertidur, sementara Lesly menyentuh wajahku perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit mengubahku menjadi yang tercantik.
“Min…”
Begitu cara dia memanggilku.
“Min…”
Aku membuka mata dan melihat… Setengah jam lagi. Seharusnya make up akan segera selesai.
‘Yuk, kita ke depan… Kita kerjakan rambutnya dulu.’ Kata Lesly padaku.
Aku menatap diriku pada pantulan cerimn. Aku menyukai teknik make-upnya. Aku menyukai warna yang ia pakai pada mataku.
Saat ia datang, aku menyadarinya. Dia duduk di bagian lain. Seseorang mengerjakan rambutnya, mewarnai dan memakaikan jas nya pagi ini.
Aku memperhatikan…, Hair stylist membentuk sanggul yang manis untukku. Aku menyukainya… Tangannya yang lembut menyentuh rambutku.
Dia kembali ke rumah dengan mobil yang sudah dihiasi. Dengan pita merah dan sepasang boneka didepannya.
Dan saat aku melihat ke cermin. Aku menemukan diriku terbalut gaun putih yang manis dengan bunga putih di rambutku. Aku menatap ke cermin itu dan melihat diriku, satu hari menjadi bride yang paling anggun dan cantik. Apakah Bapa di sorga ikut bahagia denganku? Apakah papa tahu ini adalah hari bahagia putrinya?
Ko Gunawan yang kembali mengantarkanku ke rumah. Aku harus menunggu. Itu adatnya.
Aku menunggu di kamarku.




Piggy aka Susanna (teman baikku di SMA) dan Cie-nya datang. Helen (teman baikku sejak SD 5) menyusul kemudian.
‘Min, I’m coming…’
Sms darinya.
Dan ‘I’m waiting.’
Begitu aku membalasnya. Kali ini aku menunggunya dengan gaun putih.


Sesuai tebakkanku, aku mendengar ada suara di depan rumahku.
Berdiri disana. Dengan jas hitam dan memegang sebuket bunga merah yang sangat manis.

Tommy aka Vantillian aka Papi.
Berdiri didepannya aku, wanita yang dia tunggu hingga 8 tahun.


Aku memakaikan satu bunga kecil, bunga merah di saku Jasnya. Dan ia menyerahkan buket bunga merah kepadaku.

















Beberapa adat singkat di jalankan. Dan dalam balutan baju pengantin putih, aku dibawa menuju rumahnya. Rumah papi.


Dalam mobil. Aku menyentuh tangannya. Tersenyum bertanya, ‘Pi, apakah min cantik?
Dan ia tersenyum menawan, ‘Min cantik sekali.’
‘Semua orang menunggu kamu.’ Begitu katanya.




Dan benar. Saat aku menapakkan kaki dengan sepatu putihku… Aku melihat wajah penuh senyum dan sambutan akan seorang pengantin pria yang membawa pengantin wanitanya pulang ke rumah.
Aku menatap puluhan tatapan penuh kekaguman. Beberapa melihatku, membangkitkan nostalgia dan kenangan akan diri mereka, puluhan tahun yang lalu.





















Aku melihat kamarku. Kamar pengantin yang sangat indah. Best Man mendesainnya untukku. Abun Rahim, Hans Balon… memenuhi lantai pengantin dengan puluhan balon hijau dan putih. Ada sepasang lentera kecil yang dinyalakan saat papi menjemputku. Kamar pengantinku, penuh cahaya lembut hijau yang magical. Aku sungguh menyukainya.














Mereka satu persatu memberikan hadiah kepada ku, dan papi. Bagian dari adat yang menyenangkan. Saat satu persatu hadiah diberikan, ada tawa, ada harapan dikatakan.
Setelah itu, aku mengganti gaun putih dengan gaun merah yang anggun. Permata berkilauan di belahan gaun depan. Dan saat aku berjalan menuruni tangga, aku mendapati lebih banyak kekaguman yang terang-terangan ditujukan padaku.
Dengan gaun merah ini, aku pulang kembali ke rumahku. Untuk adat berikutnya.



Sambutan yang lebih meriah sudah menungguku dirumahku. Mama, Sis in Law, mereka terlihat sangat cantik.
Adat, terkadang sangat menarik dan penuh makna.
Kembali, aku menerima hadiah satu persatu dari saudara terdekat. Mama memberikanku kalung yang ia beli dari hasil uang sewa rumah. Kalung itu cantik sekali.
Kadang dalam beberapa kekacauan karena keramaian adat itu, aku melirik wajah wajah mereka. Papi, mum, mama mertua, dan lainnya… Jika aku menemukan mereka bahagia, aku merasakan kebahagian itu juga tumbuh dalam hatiku berkali kali lipat.

Ada moment saat itu. Saat aku harus kembali ke rumah papi. Rumah kami. Aku secara resmi, secara adat tiong hua, sudah meninggalkan rumah mum dengan restu keluarga. Aku akan menjadi istri Tommy aka Vantillian aka papi. Dan saat aku di depan pintu… Aku bertaruh melihat mata mum berkaca-kaca.
Aku tahu kalian tahu persis bagaimana perasaanku saat itu.
Pagi tadi, aku melangkahkan kaki turun dari mobil… Perasaan ini begitu ringan. Dan saat aku melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam mobil siang itu…, langkah itu berbeda.
The day still continue…



