Posts Tagged ‘keira’

Double Esspresso – Put an End


2010
02.22

@ DOUBLE ESSPRESSO

put an end

Ada beberapa hal yang sulit aku terima di dunia ini. Betapapun itu kisahnya berbeda, tak akan mengurangi berat persoalannya. Betapa dinilai dalam sisi yang berbeda, akan sama artinya untukku.

***

Aku memakai gaun putih selutut. Ada pita gading panjang di hip-ku. Dengan heels paling tinggi di deretan sepatuku. Senada, putih. Aku menggelung rambut panjangku ke arah dalam, dan menjepit tiara kecil di sisi kanan rambutku. Aku memakai lotion dengan glitter di tubuhku. Sinar lampu akan membuatku terlihat stunning.

Aku menyukai diriku yang terlihat seperti putri. Tergoda untuk tampil menarik perhatian, aku memakai sarung tangan putih jala dan menggenggam tas bulu. Aku tersenyum pada pandangan mata yang kagum menatapku.

‘Aku mulai terlihat seperti kakek tua jika berjalan bersamamu.’

(more…)

Double Esspresso – When I Look Arround…


2010
02.07

when i look arroundPerbedaan.

Perubahan.

Mereka ada.

Aku melihat ke sekelilingku. Aku mengamatinya.

Kadang aku mengingatnya, mencoba mempertahankannya. Kadang sebelum aku menyadarinya, aku sudah melupakannya.

(more…)

Double Esspresso – Going Home


2009
11.30

@ DOUBLE ESSPRESSO

going home

Hari ini adalah hari yang biasa untukku.

Satu hari lagi, cuaca yang cerah di pearl city.

Aku memandang langit hari ini, biru. Sangat biru. Pearl city sudah ditinggalkan badai dan hujan yang tanpa henti. Awan terlihat lebih putih dari biasanya, langit terlihat terlalu biru. Desember yang sangat indah di pearl city, walau di belahan kota lain, itu tidak sama.

Di kota lain, ada badai dan ada langit yang tidak sama, seperti yang aku nikmati hari ini.

(more…)

Double Esspresso – A Sign


2009
11.08

a sign

Glass singgah setiap pagi.

Aku akan membuatkan segelas esspresso, dia akan menemuiku, Glass, mengambil segelas esspressonya dan berangkat untuk pekerjaannya.

Hari ini, hujan sudah berhenti. Aku, Keira, berdiri di depan coffe shopku, menebak udara di pearl city akan segera menjadi udara yang kering. Udara kering, membawa debu, dan mengantarkan daun-daun yang kering jatuh di depan coffee shop. Aku membayangkan daun-daun coklat itu berjatuhan.

‘Aku mau kopi-ku, Kei…’ Suaranya mengancam. Membuyarkan lamunanku.

Aku hampir menjatuhkan gelas kopi yang panas itu ditanganku. ‘Weew… Jangan ngagetin.’

‘Aku sudah hampir lima menit disini, Kei. Ayo sini.’

Dengan patuh, aku meletakkan gelas itu ditangannya. Aku menatapnya. Dia membalas tatapanku tanpa ekspresi, dan menaikkan alis matanya. Aku memalingkan wajahku, dan masuk kembali ke coffee shop.

‘Hei, apa maksud tatapanmu tadi, tweety?’

(more…)