
Through many dangers, toils and snares
I have already come;
‘Tis Grace that brought me safe thus far
and Grace will lead me home
Home

Home

Menunggu.
Min. Dia sudah di coffee shopku, sejak pagi. Membuat kartu.
Kulitnya tampak lebih gelap. Rambutnya semakin panjang. Dan ia tampak serius.
Angin sore itu membelai wajah dan rambutku. Aku malas membuka mata ini. Ingin merenung. Sepertinya tidak akan ada waktu yang lebih tepat lagi selain waktu ini.

Setiap hari, semua akan berjalan seperti sebagaimana seharusnya hari itu berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Um… Sepertinya aku salah.
Kadang itu terdengar seperti audiophile, yang menyanyikan lagu yang kamu kenal, lagu yang menceritakan tentang kamu. Suara yang jernih, audiophile. Menceritakan, menekankan pesan dalam lagu. Hanya dengan satu atau dua instrument yang mengiringi. Jelas. Dan bagiku itu terdengar sedikit menyedihkan. Dan itu terdengar, setelah semuanya itu berlalu.
Entahlah.
Manusia meninggalkan kesan. Dan itu adalah pesan.
Setidaknya, itu menurutku. Dan, manusia selalu membuat pesan. Manusia selalu menerima pesan.
Dan, aku harap, selalu ada pesan ditinggalkan untukku.
Harus ada pesan untukku. Harus ada.
(Word And music by Diane Ball)

Satu hal yang aku kusukai di pagi hari. Pagi yang terlalu pagi bagiku untuk bangkit dari tempat tidur. Pagi yang bagiku, terbangun, dan menyadari ternyata terbangun lebih awal sebelum weker kecilku berdering. Saat aku bergelung dan menutup mata sebentar lagi, untuk merasakan dinginnya udara dan… tertidur sebentar lagi. Aku… menyukainya.
What things in life you like most?

@ Double EsspressoHujan.
Kondisi, membatasi semua yang kuinginkan dan kurindukan.
Aku mulai merindukan malam tanpa hujan.
Lampu jalan di depan coffee shop sudah dinyalakan. Hujan rintik-rintik terlihat jelas dengan pantulan sinar lampu jalan. Cahayanya sedikit kekuningan, hingga butiran air yang jatuh tidak bening seperti biasanya. Kontras sekali dengan warna coffee shop, ungu. Aku sungguh menikmati pemandangan itu. Butiran yang rapi, yang teratur dengan warna kuning. Seperti kilau serbuk peri.
Aku tenggelam dengan buku ditanganku. Sebentar membuatkan espresso untuk beberapa tamu yang datang. Namun, aku kembali dengan halaman-halaman Mitch Albom. The Five People You Meet in Heaven.
Aku sampai pada orang keempat yang ia temui. Istrinya. Ia bertemu dengan istrinya di surga. Dalam ceritanya, istrinya dan keempat orang lainnya yang ia temui, membuatnya mengerti arti kehidupannya didunia.
Agak menyedihkan. Memikirkan akan bertemu orang-orang dimasa lalu, menjelaskan tentang kematian dan kehidupanmu, maksudku.

Ada beberapa hal yang sulit aku terima di dunia ini. Betapapun itu kisahnya berbeda, tak akan mengurangi berat persoalannya. Betapa dinilai dalam sisi yang berbeda, akan sama artinya untukku.
***
Aku memakai gaun putih selutut. Ada pita gading panjang di hip-ku. Dengan heels paling tinggi di deretan sepatuku. Senada, putih. Aku menggelung rambut panjangku ke arah dalam, dan menjepit tiara kecil di sisi kanan rambutku. Aku memakai lotion dengan glitter di tubuhku. Sinar lampu akan membuatku terlihat stunning.
Aku menyukai diriku yang terlihat seperti putri. Tergoda untuk tampil menarik perhatian, aku memakai sarung tangan putih jala dan menggenggam tas bulu. Aku tersenyum pada pandangan mata yang kagum menatapku.
‘Aku mulai terlihat seperti kakek tua jika berjalan bersamamu.’