Double Esspresso – A Sign

a sign

Glass singgah setiap pagi.

Aku akan membuatkan segelas esspresso, dia akan menemuiku, Glass, mengambil segelas esspressonya dan berangkat untuk pekerjaannya.

Hari ini, hujan sudah berhenti. Aku, Keira, berdiri di depan coffe shopku, menebak udara di pearl city akan segera menjadi udara yang kering. Udara kering, membawa debu, dan mengantarkan daun-daun yang kering jatuh di depan coffee shop. Aku membayangkan daun-daun coklat itu berjatuhan.

‘Aku mau kopi-ku, Kei…’ Suaranya mengancam. Membuyarkan lamunanku.

Aku hampir menjatuhkan gelas kopi yang panas itu ditanganku. ‘Weew… Jangan ngagetin.’

‘Aku sudah hampir lima menit disini, Kei. Ayo sini.’

Dengan patuh, aku meletakkan gelas itu ditangannya. Aku menatapnya. Dia membalas tatapanku tanpa ekspresi, dan menaikkan alis matanya. Aku memalingkan wajahku, dan masuk kembali ke coffee shop.

‘Hei, apa maksud tatapanmu tadi, tweety?’

(more…)