
Through many dangers, toils and snares
I have already come;
‘Tis Grace that brought me safe thus far
and Grace will lead me home
Home
Pertama kali sampai di Pearl City, aku, Keira tidak mengenal siapapun.
Itu kota yang sudah kutinggalkan hampir 18 tahun lamanya, saat mum yang memutuskan untuk meninggalkan kota ini tanpa bertanya padaku. Tentu saja.
Ini… soal waktu. Waktu yang sudah berjalan lama, mengikat seseorang menjadi lebih dekat, menjadi lebih erat. Atau, memisahkan, aku dan yang kukasihi. Hal-hal yang menjadi bagian diriku.
Pagi ini hujan. Aku terbangun.
Akan lebih banyak hujan lagi, kelihatannya. Bulan-bulan terakhir ini, aku meramalkan hujan lebih baik dari analisis manapun. Ah, Bangun pagi tiba-tiba saja bukan menjadi masalah lagi bagiku. Jam lima pagi, aku sudah terbangun, kedinginan. Mematikan air conditioner dan kembali bergelung dibawah selimutku. Hal yang kusukai.
Buku, laptop, headband, ponsel, berserakkan disekitar tempat tidurku.
Biasanya, dalam keadaan setengah sadar, aku akan memutuskan, untuk kembali tidur, atau segera ke bathroom. Pagi ini, aku sampai pada pilihan ke dua.
Aku mempunyai satu pesan di telepon.
‘Kei, aku akan berangkat meeting, out of town. Will give you a call later.”
Aku melangkahkan kaki ke dapur. Tidak bijaksana jika menyebut itu sebuah dapur. Hanya satu sekat yang memisahkan ruang tamu-ku dengan sedikit pojokkan yang hanya kuisi dengan microwave, refrige dan coffee machine.
Brewing, steaming…
Kopiku yang pertama.
Aku memutuskan untuk mandi, dan kembali beberapa menit lagi, untuk mengambil gelas besar kopi kesukaanku.
Minggu-minggu ini adalah masa orientasi untuk Glass dan teamnya. Team yang terlibat dalam konser dan acara-acara sepanjang musim ini. Dia akan lebih banyak di kota-kota lain. Aku memanfaatkannya dengan mengurus laundry yang selama ini kuhindari, dan berbelanja untuk midnight movie.
Ah.
Ada yang khusus tentang hari ini.
Baca paragraph dua yang kutuliskan?
Ini soal waktu.
Waktu yang seolah-olah selalu memutuskan apa yang terjadi (dan apa yang tidak terjadi) dalam hidupku.
Setelah meninggalkan Pearl City…yang cukup lama hingga, wajar aku dilupakan dan tidak dikenal. Dan saat aku di kota ini, sebelum terlalu kesepian, yaitu hari ini – tepat setahun yang lalu. Tiba-tiba saja, aku tidak lagi asing.
Siapa entah kapan pernah mengatakan, waktu akan berputar kembali ketempatnya semula. Which ini akan dibantah guru astronomy.
Jika aku tepat mengingatnya. Itulah hari pertama, semua menyediakan waktu untuk datang dan berkumpul untuk hari yang istimewa ini. Hari yang sama setahun yang lalu, hari ini.
***
Coffee Shop
Jika tahun lalu, Tuhan memberi Joli hari yang cerah. Sepertinya Tuhan tahun ini memberikan hari yang romantis. Hujan di dini hari, lalu berawan di sepanjang hari.
Jika tahun lalu, aku meletakkan semua lilin-lilin hijau, hingga coffee shop kelihatan seperti Little Dwarf’s Hut, tahun ini aku menggabungkan lilin pink dan putih. Sesuatu yang lembut dari Joli mengingatkan aku pada warna ini.
Hayden juga mengundang satu pemain Cello dan satu pemain Violin. Aku shock. Nampaknya aku akan menyediakan tip tambahan. Aku tersenyum.
Windbell. Tante Paku. Entah, semua memanggilnya begitu. Aku juga. Aku membutuhkan dirinya untuk membantuku menyusun meja dan kursi, hari ini. Karena aku cukup sibuk dengan menu makanan yang cukup banyak. Ebed berjanji akan datang tepat waktu untuk mengabadikan dengan Nikonnya. Aku lupa mengabarkan padanya Panasonic Lumix mengadakan event.
Ditengah-tengah kesibukkanku, aku mendengar banyak suara. Waktu-waktu seperti ini tidak banyak. Hanya satu kali untukku, satu kali untuk Joli, satu kali untuk mereka yang ada di coffeeshop, malam ini.
Aha, Min datang. Pertama dia singgah ke Hayden, singgah ke Tante baru singgah ke dapur. Tipikal Min. Hinggap sana hinggap sini. Aku tersenyum.
Min akan bernyanyi malam ini. Satu lagu. Dia belum pernah nyanyi di café atau semacamnya. Namun dia mau bernyanyi malam ini. Namun dari tingkahnya aku agak meragukan apakah dia sungguh-sungguh atau tidak.
‘Bread juga bisa datang?’ Tanyaku. Aku bertanya, karena banyak mendengar tentangnya dan belum mengenalnya. Min memberitahu, Bread akan bermain gitar. Ikut mengiringi Min bernyanyi. Dengan semangat ia menepuk tangannya berkali-kali. Oke, aku tertular dengan antusiasmenya, dengan cepat, aku menurunkan tanganku.
***
Meja penuh cupcakes. Pink.
Lilin yang dinyalakan disetiap sudut.
Meja Souvenir dari @Double Esspresso.
Kanvas ucapan untuk Joli.
Semua disusun dalam satu deret.
Setiap yang berjalan melewati coffee shop akan melihat cahaya yang berkilau dari lampu dan lilin. Satu pemandangan yang indah, dengan tawa, tepukkan dan pelukkan sebagai latar. Kata-kataku terbatas menggambarkannya.
Meja meja disusun dua baris, semua disusun terkonsentrasi pada pemandangan jalan kesukaanku, tempat Hayden dan teman-temannya mengiringi dengan musik, dan memunggungi coffee bar.
Thanks, tante untuk bantuannya, kataku dalam hati.
Coffee shop tutup hari ini. Khusus hari ini. Hadiah untuk Joli.
Berjam-jam mengatur ini dan itu. Serbet. Bunga-bunga. Dan akhirnya sinar matahari di pearl city berubah menjadi lebih jingga. Sore yang dinantikan itu tiba.
Tepat waktu. Windbell. Sesuai tebakkan, Joli melangkah masuk.
Aku harus mengatakan, Joli gorgeous in black. Flat shoes, bukan heels untuk malam itu. She looks elegant and shiny.
Dia menyapaku. ‘Kei.’ Aku mengangguk, ‘Jol.’
Dan lima belas menit kemudian, aku mendengar windbell yang berrentetan. Wajah jahil selalu, Hai-hai, manusia pasir, dan diikuti SF. Aku mendapat sapaan, godaan, pertanyaan dari mereka. Silahkan menebak siapa yang menyapa, siapa yang menggoda, siapa yang bertanya.
Aku berada di dapur cukup lama. Mereka bebas sebebas-bebasnya, so I just leave them and let them do what they like.
Saat aku kembali, aku melihat Smile, Dreamz, KH.
Nobie, Raissa.
Daniel the newlywedd!!
Ari, dengan kantung mata membuktikan banyak hal.
Ah ada yang membawa gitar. Dia rupanya.
Gawat nih, dia duduk diantara Vantillian, Hai-hai, M23, Dennis The Cruella Pig, Penonton dan SF. Min bakal ga jadi pake gitaris nih, pikirku dalam hati.
Ada pertunjukkan nih nampaknya, Vantillian membawa penutup mata besi, penutup wajah hitam, dan buku tebalnya tentang Otak. Jika tidak ada pertunjukkan maka akan ada pelajaran biologi atau anatomy malam ini. Aku yakin sekali.
Joli berada diantara Purnawan papanya Kirana, Purnomo, JF, Noni, Erick dan IIK. IIk sempat singgah ke dapur dan memelukku erat. Sepertinya aku dikangeni. Malam ini selain ada tawa, semoga tidak ada air mata, walau sebahagia apapun.
AP duduk di coffee bar, membaca. Semoga tumpukkan majalah di coffee shop cukup oke. National Geographic-ku lengkap. Thanks God.
Dan disisi meja disebelah, ada Ken, Tante Paku yang sudah santai, Vincent ngobrol tentang hal-hal yang membuat mereka tertawa-tawa.
Sudut yang agak jauh, yang entah kenapa tidak ada tawa sama sekali. Dari coffeebar-ku, aku coba melirik, Kiem, Hannah, Tony Paulo (kenapa dia bisa datang ya?) , Minnie.
Gerombolan yang suaranya menghebohkan, Dan-Dan, Nobie juga ga mau ikutan kalah, Priska, Ebed ( yang akhirnya datang… ), Ari Thok.
Coffee shop mulai penuh dan berisik.
Entah ada nama-nama yang belum kusebutkan atau sudah. Yang kutahu, mereka ada disana. Disini. Di coffee shop-ku. Sama seperti satu tahun yang lalu. Untuk satu hari. Satu waktu. Bagi mereka ini penting dalam arti mereka. Bagiku juga. Walaupun untuk untuk hari-hari berikutnya, mereka tidak akan berkumpul, tidak akan datang, namun untuk satu hari saja, mereka ada.
Mereka akan kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Aku juga akan melakukan hal yang sama.
Namun, bukankah hari ini, aku yang disini, mereka yang disini, memiliki tujuan mereka masing-masing, tujuanku. Yang entah kenapa, sama.
***
Setelah dinner, Min bernyanyi satu lagu.
Min memilih Amazing Grace.
Bukan style orchestra, tapi Jazz. Aku tidak bisa menebak ekspresi semua yang melihat. Posisi mereka memunggungiku. Aku menikmati lagu itu. Dan setelahnya, banyak yang juga bernyanyi. Semakin banyak tawa. Semakin banyak cerita.
Aku menghampiri mereka dengan membagikan souvenir. Kopi dari coffee shop, in pack.
Dan malamnya, masing-masing mereka akan pulang dengan satu cup espresso special, the hot one. Setelah membagikan dan melihat jam. Pukul 8 malam.
Aku duduk di tengah-tengah mereka.
Ada tawaku ditengah-tengah mereka.
Coffee shop malam ini tidak magical. Bukan lilin hijau yang kupakai, tetapi lilin pink dan putih nyaris transparan. Suasana yang manis, yang real, yang romantis. Aroma kopi dan manisnya cupcakes memenuhi, bukan hanya tempat ini, tapi satu tempat dihatiku dan di hati mereka.

Aku menatap kamera didepanku.
Dan tersimpan, pikirku dalam hati.
Terimakasih untuk mereka yang membuka pintu coffee shop-ku dan memutuskan untuk mencoba espresso-ku, satu tahun yang lalu.
Dan tahun ini.
Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see
T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved
How precious did that Grace appear
The hour I first believed
Through many dangers, toils and snares
I have already come;
‘Tis Grace that brought me safe thus far
and Grace will lead me home
When we’ve been here ten thousand years
Bright shining as the sun
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we’ve first begun
Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see
Selamat ulang tahun, Joli…
May your kindness always bring blessing…
…..Thanks for the hidden care.
Always.
Good night, all. May u enjoy your way home tonight with a warm cup of coffee.







