
Menunggu.
Min. Dia sudah di coffee shopku, sejak pagi. Membuat kartu.
Kulitnya tampak lebih gelap. Rambutnya semakin panjang. Dan ia tampak serius.
‘Dia pasti menyukainya. Dia akan pura-pura memarahiku, namun ia akan menyukainya.’ Katanya sambil mengunyah cookies.
Aku memandangnya dengan penasaran.
‘Aku, mau membuat kartu.’ Jawabnya. ‘Ulang tahun.’
‘Oh oh.’ Aku mengangguk. ‘Take your time…’
Aku, Keira sibuk dengan tamu coffee shopku.
Aku duduk di depan Min. Aku didalam coffee bar, dan Min tepat didepanku. Menikmati lagu yang diputar dalam music playerku.. Aroma kopi, membuatku rileks dan sangat nyaman, mengobrol dengan Min. Menemani Min menunggu. Menunggu waktu untuk mencari orang itu. Waktu yang paling tepat.
Kita mengobrol banyak sekali. Aku dan Min. Aku, Keira, duduk di coffee shop, bukan menjadi cerita, kali ini dan sepertinya wanita didepanku, yang sedang sibuk dengan photoshopnya, yang akan menjadi cerita kali ini.
Aku melirik ponsel ditanganku. Tidak ada pesan. Aku menyukai pesan darinya.
Mengangkat tangan, menekuknya di meja. Melamun.
Biasanya, di kepalaku, akan muncul dentingan dentingan piano dan melamun akan tambah menyenangkan. Mungkin ini penyebab terutama aku diusir dari kelas. Benar benar diusir. Diusir…
Ah, hari ini, aku teringat sebuah cerita.
Sesuatu tentang tentang pengusiran semena-mena itu.
Aku, duduk diantara teman-teman. Baris pertama, aku ingat. Note : baris pertama. Maka, aku, duduk face to face dengan dosen itu. Adalah kesalahanku, jika menatap dosen, aku akan menatapnya tanpa banyak berkedip. Biasanya dosen yang wanita, tidak akan terlalu peduli. Biasanya dosen yang cowo akan bertanya langsung, apa ada yang salah dengan penampilannya. Dan dosen ini, langsung menanyakan pertanyaan. Pertanyaan tentang sesuatu tentang tahun berapa bangsa dijajah oleh bangsa siapa. Hasilnya, aku diusir dari kelas. Minggu depannya juga kembali diusir.
Lupakan soal Keira-diusir-dari-kelas.
Dan hal itu, membawaku ke ingatan lainnya, aku ingat, aku selalu mengirimkan pesan pada Ben, waktu itu. Apapun hal yang terjadi. Bahkan satu menit setelah aku keluar meninggalkan kelas, aku mengeluarkan ponsel dan mengirimkan padanya satu pesan singkat. Bahwa aku diusir dari kelas.
Dan dia selalu membalas pesanku.
Tentu saja, kali ke tiga, aku meninggalkan kelas tanpa perlu diusir. Aku lulus mata kuliahnya dengan A. OF COURSE.
Lupakan, lupakan, sangat tidak penting. Soal diusir, Ben dan lain-lain. Membosankan.
Min mulai menghabiskan persediaan cookies-ku.
Dan dia, Min, mulai bertanya di mana aku menyimpan lilin-lilin hijau-ku.
***
Beberapa jam kemudian, aku melihat kartu yang dibuat Min, sudah mulai sempurna. Sangat sederhana, sebetulnya. Namun, aku melihat kata-kata yang ditulisnya, dan tersenyum.
Aku mengisi kembali gelasnya.
Dan aku terkejut, saat ada windbell, seseorang membawa masuk sebuah bingkisan besar. Berat. Dan itu ditujukan bukan untukku.
‘Kei, Kei, untukku.’ Dia, Min menyambar bingkisan itu, meletakkan kotak itu di kursi disampingnya dan dengan cueknya kembali menatap layer monitornya. Aku tersenyum, menandatangani bukti, dan kembali ke coffee bar.
‘Aku meminta dikirim ke coffee shop-mu, Kei. Hehe.’ Katanya ceria.
***
Tentang ulang tahun. Aku tersenyum. Menulis beberapa cacatan pembelian coffee shop, tersenyum memikirkan itu.
Joli. Aku teringat akan ulang tahunnya. Akankah semua harapannya sudah terjadi tahun ini? Atau akankah harapannya sudah berubah? Semua itu tinggal dalam ingatan, hal yang dulu ada. Jika berubah, aku menyambutnya dengan sukacita. Aku merindukan wanita itu di coffee shopku. Dia baik-baik saja. Aku kembali pada jurnal-ku.
Aku menatap ke luar. Jalanan mulai basah. Langit berubah. Hujan, ternyata.
Aku melihat Min, takut rencananya mungkin terganggu karena hujan. Ternyata ia tidak terpengaruh. Tidak ada kekecewaan di raut wajahnya. Ulang tahun yang romantis, then. Hujan. Aku membantunya menyusun lilin-lilin itu. Tamu-tamu sibuk dengan pikiran dan dengan apapun yang dibawa ke double espresso saat mereka datang.
‘Hujan Kei, mereka mungkin ga datang. Hanya kami berdua.’ Katanya. ‘Boleh aku yang mengunci coffee shop malam ini?’ Tanya Min.
Aku memberikan kunci-ku padanya.
Aku Keira, akan membiarkan hal hal romantis terjadi dalam coffee shopku. Aku tidak akan menghalangi. Aku tahu Min berusaha membuat ini dengan usaha dan ukurannya, yang bagi dia paling berarti. Aku tidak akan mengerti, orang lain tidak, namun dia, min berharap dia mengerti.
Dan sementara, aku akan kembali ke rumahku, dengan susu hangat dan buku yang belum selesai kubaca. Mungkin berharap Glass akan mengirimiku pesan. Yah, itu ide yang cukup bagus untuk malam ini.
***
Aku menatap jam di dinding kamar. Tersenyum.
Aku akan menceritakan padamu, bagaimana coffee shop-ku pada malam hari.
Ah…
Cahaya lampu dari jalan, berwarna kuning. Kamu akan membayangkan cahaya kuning yang lembut. Sedikit akan menyinari ke dalam coffee shopku, dan menciptakan bayangan yang dramatis… Ungu tidak akan terlihat jelas pada malam hari karena lampu. Dari tempat duduk Min dan Van, mereka akan menatap sinar kekuningan, dan mereka akan dengan jelas melihat tetesan hujan yang jatuh. Jalanan akan makin sunyi. Dan di dalam coffee shop akan terasa sangat dingin.
Min mungkin akan menyilangkan kakinya, sesuai kebiasaannya, menekukkan tangan seperti yang suka kulakukan, dan mendengarkan pria didepannya bercerita.
Lilin yang hijau di sekeliling mereka, mungkin mereka akan mendengarkan saxophone cartel, atau oldies 70-an, aku harap mereka bisa mencarinya sendiri di rak.
Coffee shop adalah tempat yang paling nyaman untukku, aku harap cukup nyaman untuk mereka berdua, merayakan malam mereka, malam ini. Suara mereka memenuhi coffee shop. Tidak akan ada yang mendengarkan.
Aku? Apa yang aku harapkan? Aku harap mereka akan baik-baik mengingat waktu mereka saat ini. Aku harap, apapun harapan mereka, akan ada jalan dibukakan untuk itu. Walau ada hari hari dimana harapan itu berubah, mereka memulai harapan itu dari malam ini.
Captured!
Ponselku bergetar.
Aku selalu menyukai pesan.
Dan… Um…, nampaknya malam ini, aku tidak akan menyelesaikan buku yang terbuka didepanku.
Happy birthday. Welcome to their another wishes.
“And the cards… “










