Double Esspresso – Always On My Mind

97PMVK8RAHCF
Little things I should have said and done
I just never took the time
You were always on my mind
always on my mind
Perasaan rindu… itu membuatku memejamkan mata lebih lama, merasakan kehangatan yang ditimbulkan dan kenangan yang memberi penghiburan. Aku menyukainya. Sungguh.


Angin sore itu membelai wajah dan rambutku. Aku malas membuka mata ini. Ingin merenung. Sepertinya tidak akan ada waktu yang lebih tepat lagi selain waktu ini.

Saat-saat seperti ini sering muncul. Saat-saat aku membayangkan, merenungkan atau menikmati hal-hal yang berlalu dihadapanku. Saat-saat dimana aku memejamkan mata,dan aku bisa dengan mudah membayangkan banyak hal. Mungkin itu karena aku (pernah) cukup banyak waktu saat di dalam sana? Di dalam kegelapan dan dunia yang aman. Dunia gelap tempat aku bersembunyi, hanya makan dan tidur. Ehm, mungkin bermain-main sebentar… hingga berbulan-bulan lamanya.

Sejak dulu, mum menyukai rambut panjang, poni yang jatuh menyentuh alis… Aku tersenyum mengingat ia masih menyukai boneka yang serupa. Ia hampir tak terlihat rapuh. Glass bahkan menyebutnya gigih. Namun ia menyukai boneka. Aku tersenyum. Menatap cangkir hangat didepanku. Aku duduk di depan coffee shop. Tidak di dalam coffee bar-ku malam ini. Di depan coffee shop. Dibawah paying mungil, dengan meja dan kursi yang senada.

Aku mencoba mengingat, apa lagi yang ia suka?

Ia sungguh senang memaksa. Oh ya, ia memaksaku membawa jaket hujan setiap hari ke sekolah. Dan aku yakin, hanya aku satu –satunya anak yang ingat membawa jaket hujan ke sekolah. Satu kali, aku memakainya, dan guru bahasa inggrisku menghampiriku dan berhata, ‘You’re so cute…’ Aku berlari ketika ia berkata begitu, oh come on, mana ada guru bahasa inggris yang berkata begitu pada muridnya? Terutama padaku, Keira yang nyaris tak pernah berbicara saat pelajarannya. Hasilnya aku berlari menerobos hujan dan masuk ke dalam mobil. Aku yakin dia tertawa.

Saat aku mulai menyukai memakai sepatu kulit ke sekolah, aku bangun setiap pagi jam 5.15. Dia tahu aku mual jika disodorkan makanan berat atau berminyak pagi-pagi begitu. Maka ia menyiapkan bubur, berarti jam empat dia sudah bangun. Hampir tiap pagi ia menyodorkan kopi untukku. Thanks mom for raising a coffeeaholic. Kopi hangat pekat. Tanpa susu. Kadang ia takut kalsium ditulangku habis, maka ia sodorkan 2 gelas, segelas susu dan segelas kopi. Oh, tentu saja itu harus dihabiskan. Saat aku siap, di depan pintu sudah tergantung tempat botol air mineral (green one) yang akan ku bawa ke sekolah.

Aku membawa kunci kemanapun aku pergi. Dan aku akan membutuhkannya setiap hari pulang dari sekolah. Meski sangat yakin putrinya ga akan diculik, tepat jam 1.20 siang, dia akan menelepon sekitar 15 detik, untuk memastikan aku sudah sampai dirumah. Ia tidak akan mengomel, jika setelah makan siang, tanpa mengganti seragam, aku akan langsung tidur siang. Mum tidak akan menelepon lagi, karena tau jam begitu aku akan menonton cartoon, drama, music TV, hingga aku tertidur.

Sejuk. Maksudku, angin sore ini.

Aku meneguk espresso, cangkirku, dengan sedikit tersenyum. Aku tidak menikmati rasa pahitnya. Aku menikmati sedikit kenangan sore itu.

Itu waktunya pulang? Dia akan mengomentari banyak hal.

Ah, tamu. Kembali ke bisnis, Keira.

Satu hal tentang coffee bar, aku menyukai keberadaanku di daerah yang sangat aku kenali. Gelas, gula, kopi, dengan mudah tubuhku bergerak memenuhi kebutuhanku. Tanganku akan mudah meraih apa yang kubutuhkan, dan aku tahu persis letaknya, di coffee bar ini.

Aku mengambil shaker. Memasukan air dingin, kopi instant dan gula. Mengocoknya. Sensasi dingin terasa menyenangkan di telapak tanganku. Ah, es batu. Ini bagian kesukaanku. Gelas kaca yang bundar datar, es batu yang keras dan besar. Uap dingin terlihat saat aku menuangkan frappe itu ke dalam gelas. Sedotan pendek yang manis, dan daun mint. Aku tergoda untuk menambahkan cinnamon.

Selanjutnya? Um, croissant? Tidak, aku tidak membuat croissant. Aku membelinya. Croissant panas dan hangat. Coklat akan meleleh dari bagian tengahnya. Yeah. Meleleh.

Serbet.

Aku mengantarkan itu ke meja tamu. ‘Silakan.’

Tamu itu menutup korannya, membalas senyumku. Aku melangkah kembali ke coffee bar.

Aku memutar lagu lama. Oh benar benar lama. Lagu yang entah kenapa menambahkan satu perasaan yang kucari hari ini.

Little things I should have said and done ,
I just never took the time
You were always on my mind
You were always on my mind

Sambil membaca novel terbaruku, sore itu perlahan berlalu, dan terasa menyenangkan.

Windbell.

Angin yang masuk seiring dengan pintu dibuka, seolah mengantarkan satu kesegaran baru. Intro pada lagu yang sedang diputar di music player, terdengar lembut.

Ia berdiri, melihat papan menu di dinding. Cukup lama.

‘Bingung mau memilih apa?’ Tanyaku ramah.

Dia mengangguk.

‘Sakit maag?’ Tanyaku lagi.

Dia menggeleng.

Wajar, untuk seusianya, dia tidak nyaman langsung bertanya. Dia memegang buku sejarah dunia. Ah, ujian akhir?

‘Jika kamu memiliki masalah dengan maag, aku akan menyarankan coklat atau sesuatu dengan susu.’ Saranku.

‘Bukan untukku.’ Jawabnya manis.

‘Baiklah, segelas latte mungkin paling aman?’ Senyumku bertambah lebar.

Dia mengangguk.

Aku mengambil cangkir take away, memasukan latte hangat, menutup. Memasukan cangkir, sedotan, tissue ke dalam kantung kertas. Menyerahkan latte itu pada gadis itu.

‘Dan dua donut gratis. Bonus untuk yang sedang ujian.’ Aku mengedipkan mata.

‘Hati-hati saat pulang ke rumah.’

‘Thanks.’

Aku hendak menata kembali peralatanku, namun gadis itu berbalik dan berkata. ‘Untuk mom. Dia akan ke kota lain lagi malam ini. Berkerja, kamu tahu… Aku ingin dia tetap merasa hangat saat di dalam perjalanannya. Dan aku kesini. Ini sesuai yang kubutuhkan. Latte hangat.’ Dia mengangkat gelas latte itu.

… Ah, beruntung. Jangan pikirkan apa maksudku.

Memeriksa ponselku. Mum.

Aneh, jika saat ini merindukannya. Aneh, saat ini merasa gadis itu beruntung. Aneh, rasanya semua yang berlalu hari ini, mengingatkan aku padanya. Mum. Aku menyimpan ponsel itu kembali ke dalam saku celemek.

Baiklah Keira, akuilah kamu rindu. Kataku pada diri sendiri.

Beberapa jam kemudian, tamu mulai satu persatu pulang. Coffee shop terasa sunyi. Hayden pamit beberapa menit yang lalu.

Setelah memastikan semua beres, dan mengunci pintu…

Aku mengeluarkan ponsel dan menekal speed dial. 1.

‘Glass. He eh. Ya, bisa mengantarkan aku ke satu tempat?’ Dia terdengar sibuk.

‘Ya, jika kamu sibuk, aku bisa menyetir sendiri.’

‘Ya, aku ingin kamu ikut denganku.’ Jawabku lagi.

‘Ya, kalo begitu, aku menyetir sendiri.’ Kataku.

‘Yep.’

Meraih tas-ku. Perjalanan panjang kembali kerumah, pikirku dalam hati.

***

Sampai di sana, sudah cukup malam. Angin yang dingin menyapaku. Basah. Hujan. Bau daun dan tanah memenuhiku. Bunyi gemersik yang ditimbulkan sepatuku saat melangkah. Aku tersenyum.

Ayunan. Rumah kayu yang cantik. Saat aku sedih, aku akan duduk di ayunan kayu ini, dan aku ingat Dad dulu menghampiri dan duduk disampingku. Dari tempatku berdiri, aku melihat tangga yang langsung menuju ke jendela kamarku. Aku tidak pernah memakainya. Aku takut ketinggian.

Rumah itu gelap. Lampu sudah dimatikan. Hampir tengah malam, saat aku sampai. Aku melangkah masuk ke rumah itu.

Aku masih menyimpan kunci.

Dengan perlahan aku membuka pintu, dan lampu. Menuju dapur. Ruangan dalam seketika menjadi terang. Tidak ada siapapun. Mum sudah pasti tidur. Mungkin bersama Joana.

Aha. Susu dingin dalam kulkas. Ini kesukaanku. Juga kesukaan Joana?

Perlahan aku memanjat tangga menuju kamar itu. Dengan memegang segelas susu.

Tertidur dengan baik. Kelelahan karena mengurus semuanya sendirian, mum? Tanyaku dalam hati. Joana tidur disampingnya. Cantik dan mempesona.

Aku tutup kembali pintu itu.

Kembali ke dapur. Mencuci gelas yang aku gunakan, meletakkan scratch book yang ku selesaikan minggu lalu di meja, dan setangkai mawar. Putih.

‘Love u, Mum.’

Helaan napas. Aku menghela napas… Legakah?

‘Aku akan kembali.’

Dan aku menutup lampu. Membiarkan semua kembali seperti semula. Menutup pintu, dan masuk kembali ke mobilku. Ada kelegaan dan kerinduan yang tidak terobati walau aku sudah kembali. Kerinduan dan kelegaan yang menemaniku dalam perjalanan ke Pearl City.

Aneh, aku pikir aku akan menemukan kelegaan, namun kerinduan itu bertambah dan kelegaan itu bahkan tidak terasa.

Berjam-jam dalam perjalanan pulang. Pikiranku penuh dengan hal-hal yang hampir aku lupakan. Aku melalui waktu yang mengantarkan aku kembali ke Pearl City.

Aku melirik jam didashboard. 05.10. Glass sudah bangun, pikirku. Butuh 15 menit untuk sampai di rumahnya.

Aku mengetuk pintu itu.

‘Hai.’ Aku tersenyum.’

‘Senyumu mencurigakan.’ Dengan kaos dan celana training. Dia baru akan berlari pagi. ‘Ayo masuk.’ Meraih tanganku masuk ke dalam rumahnya.

‘Ah, tidak tidur semalaman Glass…’ Aku bergelung di sofanya. Nyaman sekali. Aku meraih selimutnya, selimut yang kupakai saat menonton bersamanya hingga tengah malam.

Memutar Mp3, memasang ear phone.

‘Aku akan berlari sekitar satu jam. Kamu disini saja.’ Dia menepuk bahuku, dan mengecup dahiku. Menyentuh rambut yang jatuh di pipiku.

‘Hm hm.’ Jawabku seadanya.

Aku mendengar samara suara pintu ditutup. Menutup mata, dan mendengar lagu yang sama diputar ulang, berulang-ulang.

Another way to sleep.

Maybe I didn’t treat you ,
Quite as good as I should have
Maybe I didn’t love you ,
Quite as often as I could have

Little things I should have said and done ,
I just never took the time
You were always on my mind
You were always on my mind

Maybe I didn’t hold you ,

All those lonely, lonely times
And I guess I never told you ,
I’m so happy that you’re mine

If I made you feel second best


Girl I’m so sorry I was blind
You were always on my mind
You were always on my mind

Tell me, tell me that your sweet love hasn’t died


Give me, give me one more chance to keep you satisfied, satisfied

Little things I should have said and done


I just never took the time
You were always on my mind
You were always on my mind
You were always on my mind

Aku ingat… Dia memaksaku mengingat obat-obat yang akan aku butuhkan. Lima kali terkapar karena masalah lambung, sangat membuatnya terkejut.

Aku ingat… Dia meraih, dan membawaku keluar dari sekolah. Ketika rumah disamping sekolah mulai terbakar. Tidak terlambat. Ia tidak pernah terlambat.

Aku ingat… Dia berjuang melawan Herpesnya, saat semua dokter mengatakan tidak tertolong lagi. Dia tetap bangun pagi, tetap menyediakan sarapan, dan ia sembuh. She never told me.

Aku tahu… Dia masih tetap takut, aku tidak akan pulang.

Bagian dirinyalah yang terbesar didalam dirimu, Keira… Kataku pada diri sendiri.

And I guess I never told you ,
I’m so happy that you’re mine
You were always on my mind
You were always on my mind

Perasaan rindu… itu membuatku memejamkan mata lebih lama, merasakan kehangatan yang ditimbulkan dan kenangan yang memberi penghiburan. Aku menyukainya. Sungguh.

Always on my mind.

Pturk_White_Lily_LE140


Happy Mother’s Day, Mum.


logo min besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 
You are the Potter, I'm the Clay Follow us Facebook Twiter Twiter Flickr YouTube RSS