Aku cemburu.
Aku cemburu pada temanku, yang duduk dalam kelompok drama yang sama denganku.
Karena, di depan rumahnya, bukan tempat pembuangan sampah. Sedangkan jalan di depan rumahku, di jadikan tempat pembuangan sampah. Hingga menggunung. Hingga separuh jalan ditutupi oleh sampah dan genangan air busuk.
Aku cemburu pada temanku, yang dapat memakai baju yang wangi rumput dan matahari. Karena dirumahnya angin bertiup angin yang segar. Sedangkan, jalan di depan rumahku penuh dengan sampah yang busuk. Dan pakaian yang dijemur, menyerap angin yang membawa bau busuk itu. Aku sungguh ingin mencium wangi matahari yang sehat. Bukan bau busuk yang menempel dibajuku, setiap hari.
Aku cemburu pada temanku. Mereka tidak perlu berangkat lebih awal karena jalanan yang mereka lalui adalah jalanan tol beraspal yang tebal tanpa lubang. Aku harus menahan kutukkanku, karena jalanan dirumahku penuh dengan genangan air dan lubang-lubang besar. Aku cemburu, karena aku harus melewati puluhan lubang dengan lambat untuk sampai ke jalan besar.
Aku cemburu.
Aku cemburu karena temanku yang lain, tidak perlu memakai kaca mata untuk membaca. Seringnya mati lampu, membuat aku harus membaca dalam gelap. Pemadaman listrik yang bertubi-tubi minimal satu kali sehari, memaksaku untuk membaca dalam gelap, agar aku tidak tertinggal. Tempat tinggal temanku, hampir tidak pernah terjadi pemadaman. Aku membayar tagihan sesuai bagianku, dan temanku pun begitu. Aku begitu cemburu padanya.
Aku cemburu. Karena aku ingin hidup di lingkungan bersih dan sehat. Karena aku ingin membaca dengan penerangan yang cukup. Karena aku ingin menikmati hak-ku untuk mendapat penggunaan jalan yang baik.
Apa yang berbeda dari aku dan temanku? Kenapa hanya aku?
Dan, aku tidak berbohong. Tepat di depan rumahku, sejumlah sampah busuk menggunung. Segala upaya sudah di buat. Membuat pengaduan, melaporkan via radio, dll. Apakah “mereka” diam, supaya sampah-sampah itu tidak dibuang di depan rumah “mereka”? So, better di buang di depan jalan rumah orang lain? Bukan menyindir, namun pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam pikiranku.
Apakah begitu sulitnya untuk membuat satu tempat khusus sebagai tempat pembuangan sampah? Apakah mereka tidak cukup sumber daya untuk mendaur ulang sampah ? Atau … What? Jangan tanya mereka ? Oke. Oke. Haha.
Aku cemburu.
Kenapa mereka, mereka yang kupilih untuk sebagai pemimpin yang terbaik, tega padaku? Tega pada penduduk di sini yang hampir setiap hari mencium bau busuk, berada dalam gelap, lubang-lubang besar di jalan… Kenapa mereka memilih kami? Kenapa mereka tidak melakukan usaha untuk kami? Apakah ini yang paling baik yang bisa mereka berikan untuk kami, sehingga kami tidak perlu cemburu dan sakit hati?
Kami penduduk biasa, yang memiliki bayi dan anak kecil di rumah kami, dan mereka lebih membutuhkan udara yang bersih dan sehat. Sama seperti siapapun.
Aku cemburu pada mereka. Mereka yang tinggal berdampingan dekat rumah-rumah petinggi-petinggi. Mereka yang tinggal di jalan-jalan utama. Mereka yang tidak pernah harus memusingkan berapa jam pemadaman listrik. Mereka bahkan tidak tahu kemana sampah mereka dibuang, dan ternyata dibuang di jalan, depan rumahku. Aku cemburu pada mereka.
Dalam lubuk hatikku, aku mengetahui yang benar dan yang salah.
Aku menghirup udara yang bau setiap hari, pemadaman listrik, dan jalanan yang rusak. Bagaimana aku agar tidak cemburu pada temanku? Apa yang berbeda dari dia dan penduduk di sini?
Aku mengeluh, aku cemburu.





