@ DOUBLE ESSPRESSO

Dia masuk ke dalam coffee shop. The song, Rainbow playing inside the coffee shop.
Tell me where there are rainbows
Can you give me back my wish?
Why is the sky so tranquil?
All the clouds have come to where I am
Pemogramman, aku membaca sekilas buku yang ia bawa ditangannya. Ah, another student… Mahasiswi yang menarik sekali… Wajahnya manis, ada sebersit sinar lucu menggemaskan dimatanya. Dia mengangguk pelan padaku, tersenyum dan mengambil tempat duduk. Aku berusaha menahan tawa-ku melihatnya terburu-buru duduk di sofa yang menghadap ke jalan. Seolah ada yang mau berebut dengannya. Wajahnya tampak puas, menguasai sofa kecil yang nyaman itu.
Dia mengingatkan aku pada diriku. Aku ingat, aku juga sama seperti siswi biasa saat itu, belajar dan berteman, hanya itu yang menjadi kewajibanku. Sungguh menyenangkan. Berjalan berbarengan di koridor sekolah, duduk berderet di deretan soprano dan memegang holder part song, berdiri bersama dideretan paduan suara saat upacara, mengendap-endap masuk ke dalam Biologi Lab saat terlambat, makan siang di kantin sekolah 5 hari dalam satu minggu.
Aku tersenyum. Mengambil daftar menu dan menghampirinya.
“Mau pesan sesuatu?”
Dia melihatku. “Ada milkshake?”
Duh, kembarannya Minmerry nih… , pikirku. Sorry, min. Apa boleh buat, kesannya mirip sih…
“Ada…” Jawabku. Mengeluarkan daftar pesanan mungil dari saku appron hitam kesayanganku.
“Sambil nunggu teman…” Katanya. Aku mengangguk sopan lalu kembali ke coffee bar. Tak lama setelah selesai membuatkan milkshake, suara windbell yang kusukai mengusikku. Aku mengalihkan pandangan dari laptop ke pintu. Coffee shop tidak terlalu ramai sore ini, aku bisa bebas mengobrol sebentar melalui messanger.
Sedikit terkejut. Baru saja membayangkan dirinya, dan dia sudah muncul begitu saja dihadapanku. “Min?” Dia menoleh padaku. Menyengir seperti biasa. Senyuman tweety-nya. “Keiraaaaa…..,” panggilnya. Kulitnya lebih terbakar, pipi-nya merah.
“Aku ada janji ama temen nih…” Min menjelaskan kedatangannya. Aku tertawa, menebak siapa maksudnya. “Tuh…” Dia menoleh pada sosok imut yang duduk dipinggiran dinding kaca coffee shop. “Yeeee, kog ketawa Kei?’
“Kog nyari temen yang kaya kembaran gitu?”
“Ih… mana mirip. Keira ah. Udah ya, aku kesana dulu.’
Aku mengangguk.
Gadis itu melompat dari kursinya, menyambut kedatangan Min. Aku menggeleng-geleng menatap Min dan gadis itu. Yes, right… U guys must know what i mean.
Dan lepas dari Keira yang sedang sibuk dengan laptopnya, dan yang kadang-kadang menukar piringan CD di coffee shop. Di pinggiran dinding kaca, duduk Min dan Sheila-sang gadis itu..
Siapapun yang melewati @DOUBLE ESSPRESSO, dapat melihat dua sahabat itu duduk membicarakan kehidupan mereka.
I let go and said too much, then those things can’t be realised
Perhaps time is a kind of cure
It is also the poison I am taking right now
If I can’t see your smile
How can I get to sleep
Your voice is so near yet I can’t hold you
The sun will still spin without the earth
I can still walk by myself without a reason
Matanya, gadis itu, mulai berkaca-kaca, berbicara pada Min. “Malam mo makan apa yah, Min?”
“Heh?” Pertanyaan itu aneh bagi Min.
“Dia tidak menyukai aku… Untuk yang kesekian kalinya, aku patah hati lagi.” Jawab Sheila, wajahnya tertunduk, menatap segelas milkshake didepannya. Berusaha mengendalikan perasaannya.
“Sheila…?? Are u ok? Whats wrong? ” Tanya Min.
“Sejak 3 bulan yg lalu… Tidak berani bilang pada siapapun.”
“Heh?”
“Bertepuk sebelah tangan…” katanya, lalu melanjutkan…
“Lagi berusaha melupakan skarang, tapi ga bisa… sedih… Aku cew terbodoh… Dia ga punya cew, tapi dia juga ga tertarik ama aku. Waktu dia ngerjain thesis aku sering semangatin dia by sms, temanin dia makan, bahkan ga ikut temen2 lab ku makan demi dia…”
Perlahan air matanya mulai turun.
“Waktu graduation ceremony beliin dia tali pinggang.” Nafasnya tertahan, “Bantuin dia ini itu…Dia senin lalu ultah. Minggu, aku ajak temenku makan bareng dia akhirnya minggu kita makan pizza untuk ultahnya…”
“Selasa, waktu persekutuan kampus, aku beliin dia kue tar, tapi karena aku sembunyiin kue tarnya, tiba2 kue tarnya ilang dicuri org akhirnya ga jadi rayain tapi dia juga ga ada respon apa2. Jadi bener2 dah ga ada perasaan apa2 di dia… Min, ajar aku gimana lupain dia…”
“Itu kue tart ilang?” Tanya Min.
Dia mengangguk dengan tatapan merasa bersalah. Min memutuskan kue tart itu ga begitu penting. Melanjutkan bertanya..
“Dia khan belum bilang ga ada perasaan ama kamu… I mean, jangan terlalu cepet ngambil kesimpulan… Kalo dia gi sibuk tesis, mungkin dia ga ngeh kalo pas lo kasi perhatian.”
“Ga perlu bilang, Min… Kelakuan bisa membuktikan. Aku juga ga pernah bilang suka ama dia… Waktu kue ultah itu, dia uda selesai thesis.”
Sheila mengusap matanya.
“Aku sering tanya pendapat dia tentang ini itu. Tapi skarang dia dah tinggal luar, dah ga pernah ajak aku makan bareng… Ga mungkin donk aku telp then tanya-tanya… ” Suaranya terbata-bata akibat tangisan yang berusaha ia tahan.
“… gimana cara mengubah perasaan suka ini jadi temen biasa…” tanyanya, berusaha mendapat jawaban dari Min.
“….help……………………………..”
Dengan cepat Min bangkit dari sofa, memberikan pelukan pada Sheila. Memeluknya dan menepuk pelan bahunya. Sesuai tebakkan, dia tidak bisa menahan tangisan itu.
Di sudut coffee bar, aku, si Keira-Penunggu coffee shop yang membosankan, menatap pemandangan itu. Terharu, namun tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Pada sudut dimana dua sahabat itu duduk…
“Dari minggu lalu pengen bilang ama Min…tapi ga berani… “
“Shei, ga mungkin ada cara cepet delete perasaan itu… Don’t worry… coz thats the way u let it go. And its okay to cry.”
“Sejak dua hari lalu dah nangis dari jam 2:30 ampe jam 3 malam. Min… aku ga tertolong lagi….”
“Ayohhhhh dearest, jangan kaya gitu… Sedih banget ya? Be tough ok?”
Dia menutup wajah dengan tangannya…
“Sedih banget ya?”
“Banget….”
“Jadi ikutan sedih….”
“Aku jelek, bego, siapa yg mau?” Tanya Sheila pada dirinya sendiri. Menyalahkan diri sendiri.
“Aku mau…”
“Min bisa mau ama aku, karena kamu liat kepribadian aku. Tapi kalo cowo suka liat penampilan…” Dengan tersedu-sedu ia menceritakan ketidak adilan yang dia rasakan.
“Ga semua cowo kaya gitu… Mungkin si MR. Tesis ini kurang peka…”
“Ga mungkin… dia itu org yg sangat peka seratus kali…”
“Kalo gitu, mungkin dia orang yang peka seratus kali – sekaligus juga bijaksana. Mungkin dia memang tidak ada feeling ama kamu, Shei, jadi biar ga lebih patah hati nantinya.”
Min melanjutkan, “dia udah tahu…tapi hanya tidak tahu caranya jelasin ke sheila, may be.”
“Iya… itulah yang ga terjadi….thanks Min bisa mengerti kenyataan yg aku hadapi.”
“Actually, can’t say i really understand, nope… Just care bout you. Just worry.”
“Andai aku cowo….udah ku lamar dirimu,” mencoba melucu, namun Min tahu dia pasti gagal. “Sheila..,dear Sheila,… buat aku, kamu memiliki sifat yang sangat tulus…”
Sedikit terkenang, aku melanjutkan… “Aku ga bisa melupakan surat pertama yang kamu tulis untukku lho…haha. Surat yang kamu tulis, minta untuk temenan, haha…”
“Hahaha…” Sheila ikut tertawa, sedikit. Air mata belum kering dari wajahnya.
“Sangat manis, you, i mean… sangat penolong, dan pinter lahhhh, mananya yang bego.. selalu masuk kelas plus. Trus s2 di luar negri, walaaaaaahhhh itu mah pinterrrr… ” Min berharap kali ini keceriaannya bisa banyak membantu.
“Kok setiap kali harus bertepuk sebelah tangan ya… Karena hal ini aku bener-bener jadi…” Sheila tidak melanjutkan kata-katanya.
“Ga… Jangan biarkan kejadian ini merubah sifat Sheila…yakin deh. Nanti, meskipun mungkin lama dan sulit, pasti bisa berlalu. Tuhan ga pernah meninggalkan anak-anakNya. Dia akan mempersiapkan yang terbaik. Biasanya kalo aku sedih, aku nangis ampe puas dulu… Then denger lagu, nyanyi… Kamu… juga bisa menemukan cara sendiri
mengadu ama Tuhan, may be…”
“Sudah……………………… sudah ngadu berratus-ratus kali” jawabnya.
“Nasehat nasehat patah hati biasanya klise, Shei. Kamu juga sudah tahu banyak. Aku ada disini, aku tahu kamu mau aku mendengarkan… Apa yang kamu lakukan tidak ada yang salah, cuma jika soal perasaan, kita tidak bisa memaksa…”
Mencoba menghibur sekali lagi. “Jangan nangis sampe kaya gitu… It’s ok… usahakan jangan dibawa kedalam pikiran terus… Istirahat, tidur yang nyenyak… makan yang banyak… pasti bisa…”
“Hari ini selangkah, kamu dah cerita ama aku. Besok selangkah lagi… Lusa selangkah lagi, ok? “
“Suatu hari nanti, akan ada yang sungguh2 mencintai kamu. Lebih dari apapun, bersabar ya… Lebih dari itu, aku sayang ma kamu. Walau aku tahu, itu ga akan pernah cukup dari yang kamu harapkan.”
“Thank you.”
Perlahan dia berkata, “Aku juga mikir gitu…. Setiap hari, aku berdoa agar Tuhan kasi aku kesabaran untuk menunggu. Tapi akhir-akhir ini aku sedih untuk cow itu. Padahal aku tau, itu ga kan mungkin terjadi.”
“Ga papa… He makes all things beautiful, in His time… so, keep praying. He have all the answer than can’t be answered by us. He need your faith, and stop asking. That’s the rule.”
“Feel free to share okay…,i ll be here.“
The sun will still spin without the earth
I can still walk by myself without a reason
I let go and say too much, then those things can’t be realised
Perhaps time is a kind of cure
It is also the poison I am taking right now
Malam itu… Aku, Keira duduk di coffee bar, melihat gadis itu pulang lebih awal. Aku berharap dia baik-baik saja. Min duduk di depan coffee bar. Didepannya, segelas espresso yang mulai mendingin.
“Everythings is fine?” Tanyaku pada Min. Yang duduk tepat dihadapanku. Sejak gadis itu pulang, aku mendapati Min melamun.
Ia mengangguk. “Everything is fine.”
“But not fine for her. U know? She’ll wake up for whole night for hours…. Crying… and don’t know how to deal with the feeling.”
Min berkata-kata, namun matanya melihat sesuatu yang jauh.
“How to let it go… Let all erased. And try one more time in the morning.”
Keira mengganti espresso yang sudah dingin itu dengan yang baru. “Ini tentang gadis itu?” Tanya Keira pada Min.
Min tersenyum, “Nope. Nope, Kei. Its about a girl who try to let go. Who try hard to let it go. Because it’s not hers. Which is happen so many times.”
Keira berkata, “So this is about, all girls. Us.”
“Yep.” Min mengeluarkan senyum tweetynya lagi. “We all learn how to let go our feeling, and someone who just not into us.“
“And never be an easy one.” Aku menjawab pernyataannya.
Setelah Glass datang, Min pamit. Mengobrol dengan Glass.
Setelah manusia berusaha meraih, akhirnya harus belajar melepaskan sesuatu. Apakah aku masih ingat potongan-potongan masa itu? Masa-masa untuk pertama kalinya, aku belajar untuk melepaskan sesuatu. Aku menandai kalender di atas coffee bar-ku, “95 hari lagi…, Kei.” Aku mengingatkan diriku sendiri.
Sementara memikirkan yang lain, aku menatap Glass. “Kamu ingin bertanya sesuatu?” Dia tidak banyak berbasa-basi, Glass. Aku tertawa di dalam hatiku.
“So… I don’t wanna be a girl who try to let go anymore. Ok?”
“Min bicara apa sih tadi ama kamu?” Glass menunjukkan wajah protes, mencurigai Min sudah melakukan fitnah hitam dibelakangnya.
“Hahahaha. Forget it.“
“Thats better.” Glass kembali ke buku tebal dihadapannya. Dan tidak tertarik untuk ditanya lagi.
Ah, raining again… But its okay, there will be silver lining or … u know, r a i n b o w.
Song : Rainbow
Composer: Jay Chou
Lyricist: Jay Chou
And the movie video : got from youtube.



